Tinggal di Rumah Sederhana & Pilih Benahi Mushola, Kakek Renta Kini Naik Haji

Reporter : Eko Huda S
28 Juli 2018 09:30
Tak banyak harta yang dimiliki. Barang mewah yang dia miliki hanya sepeda ontel yang sudah butut.

Dream - Beberapa hari lalu mungkin Anda sudah membaca kisah inspiratif Juan, jemaah calon haji asal Probolinggo, Jawa Timur. Namun ternyata, kisah kakek 75 tahun itu ternyata belum kering. [Baca: Kisah Mengharukan Buruh Tani Miskin Naik Haji]

Kehidupan jemaah calon haji yang tergabung ke dalam kelompok terbang 28 Embarkasi Surabaya ini memang membuat banyak orang kagum. Bagaimana tidak, dengan penghasilan kecil sebagai buruh tani, dia bisa mengumpulkan duit untuk berangkat haji.

Tak banyak harta yang dimiliki. Barang mewah yang dia miliki hanya sepeda ontel yang sudah butut. Lihat pula rumahnya. Jangan dibayangkan semegah istiana, atau rumah paling sederhana di kompleks perumahan sekalipun.

Bila Anda berkunjung ke Dusun Darungan, Desa Opo Opo, Kecamatan Krejengan, Probolinggo, maka akan mendapati rumahnya sangat sederhana. Anda tidak akan melihat tembok kokoh. Dinding rumah Juan hanya terbuat dari gedek. Anyaman bambu.

Juan lebih tertarik menyedekahkan uangnya untuk renovasi mushola daripada membangun rumahnya. Padahal menurut salah satu teman sekamar di asrama haji, Juan layak mendapatkan bedah rumah.

Sebagai buruh tani, kerja bapak delapan anak ini hanya mengairi sawah para pemilik lahan. Selain itu dia kerja serabutan. Juan punya seekor sapi. Tapi kini sudah dijual untuk menggenapi ongkos haji ke Tanah Suci.

Upah yang dia terima sebagai buruh tani pun tak besar. Saban sawah penduduk panen, Juan hanya menerima Rp30 ribu. “ Itu kalau sawah pas panen tiga bulan setengah saya dikasih tiga puluh ribu,” kata dia.

“ Jumlah semua, tiap panen tiga bulan setengah itu saya dapat dua juta setengah. Kalau panen gagal, ya saya enggak dikasih,” sambung dia.

Juan mengaku, awalnya tidak punya niat untuk berhaji. Dia sadar betul menjadi orang dengan ekonomi sulit. Elit. Bukan elite. Buat makan saja pas-pasan, apalagi membayar ongkos naik haji.

Namun, keponakannya mengajak ia untuk daftar haji. Kata sang keponakan, saudara-saudaranya akan urunan membantu, meskipun sedikit. Usai ajakan itu, Juan menitipkan uang Rp3 juta yang dia tabung ke H. Saiful, pemilik KBIH.

Uang itu kemudian dipakai mendaftar haji degan menggunakan dana talangan. Untuk melunasi biaya hajinya, Juan mengumpulkan uang dari pekerjaannya. Dia sering diminta orang untuk bekerja serabutan, seperti memotong kayu, membersihkan kebun dan sebagainya.

Juan tak malu melakukan pekerjaan apapun. Baginya, yang penting pekerjaan tersebut halal. Dia juga menanam tembakau di tanah orang dengan sistim bagi hasil. “ Ya dari hasil itu, kalau terkumpul sedikit uang saya setor ke Haji Saipul,” terang Juan.

Juan pergi haji sendiri tanpa keluarganya. Dia sengaja tak cerita kepada anak-anaknya karena pasti tidak diizinkan. “ Kalau saya cerita daftar haji, ya ga boleh sama anak,” tutur Juan.

Sumber: jatim.kemenag.go.id

Beri Komentar