Penantian Kakek Renta di Masjid Nabawi

Reporter : Maulana Kautsar
31 Juli 2018 06:20
Jemaah calon haji Indonesia ini tengkurap di lantai Masjid Nabawi, madinah. Dia menunggu seseorang di depan pintu masuk masjid suci itu.

Dream – Di seberang pintu sembilan Masjid Nabawi. Kakek renta itu tertelungkup. Beralas sajadah. Beratap langit kelam yang kehilangan purnama akibat gerhana. Tali merah putih melingkari badan.

Abdul Rahman. Demikian nama kakek itu. Dia sengaja tengkurap di tempat itu untuk menunggu Abdul Rasyid. Sang adik yang tinggal di Mekah. Saat dibangunkan oleh Tim Media Center Haji, dia menyodorkan selembar kertas.

Pada kertas itu tertera nama, tempat tinggal, dan nomor telepon. Pria asal Dusun Hako, Kei Besar Selatan, Maluku Utara, itu langsung menceritakan silsilah keluarganya.

Tapi sayang, kemampuan berbahasa Indonesia terbatas. Hampir semua cerita disampaikan dalam bahasa daerah. Saya yang tergabung dalam Tim MCH sulit setengah kesulitan memahaminya. “ Bisa ditelepon, to?” tanya dia.

Saya telepon nomor pada kertas itu. Telepon dalam genggaman saya kencangkan suaranya. Di ujung telepon terdengar suara perempuan. “ Adik? Adik saya? Boleh saya bicara?” sapa Abdul Rahman.

Sang perempuan ternyata istri Abdul Rasyid. Dari perempuan di seberang itu, saya mendapat informasi, Abdul Rasyid tinggal di Madinah. “ Adik nanti bisa tengok?” tanya dia.

Perempuan itu berjanji akan menghubungi suaminya. Dan berjanji menemui pria kelahiran Langgiar 27 Maret 1938 yang sedang berada di depan saya ini.

Usai telepon ditutup, Abdul Rahman bergegas. Saya bertanya mau kemana? Dia menjawab, “ Bertemu adik.”

Setelah ditenangkan, Abdul Rahman mulai bercerita. Tentang desanya dan silsilahnya, dan perjuangan melawan penjajah. Tapi, tak banyak informasi yang bisa saya dapat. “ Bapak, tahu hotel tempat tinggalnya?” saya bertanya.

Wajahnya bingung. Dia hanya menjawab hotel. Tak spesifik. Kemudian menyodorkan gelang.

Saya menelusuri nama hotel tempat dia tinggal. Aplikasi tentang jemaah haji milik Arab Saudi, Ershad, menunjukkan lokasi dia tinggal. Hotel Multaqa Al Zuwar 2

Melalui pintu enam Masjid Nabawi. Kami bergerak. " Ee lewatnya sana," kata dia. Google Maps kami memandu. Mengarahkan ke lokasi. “ Lewat Masjid Abu Bakar, Ghamamah, Ali,” serunya.

Selama perjalanan, pertokoan di bagian luar Masjid Nabawi bersiap tutup. Rolling door mulai diturunkan. Lampu-lampu dimatikan.

Sepanjang jalan, petugas kebersihan Kota Madinah yang berbaju hijau mulai disebar. Sapu mereka gerak-gerakan. Malam itu hampir berganti pagi.

Sekitar 800 meter kami berjalan. Bertemu hotel yang dimaksud. Empat orang lelaki merokok. Wajahnya melayu. Salah satu dari mereka membenarkan hotel tersebut. Tapi, di hotel itu, tak ada jemaah dari kloter UPG 12. Jemaah asal Ujungpandang.

“ Tadi ada bapak-bapak yang sedang mencari seseorang juga, di sana,” jarinya menunjuk arah belokan.

Saya membuka kembali data lokasi tempat tinggal jemaah versi Kementerian Agama. Ternyata, jemaah UPG 12 dibagi menjadi dua lokasi tinggal. Selain Hotel Multaqa Al Zuwar 2 ada pula Al Eiman Uhud.

Google Maps saya ketuk. Petunjuk arah diaktifkan. Tak jauh untuk ukuran saya. Sekitar 300an meter.

Dengan gesit Abdul Rahman mengikuti arahan. Setiap saya tanya, mana hotelnya, dia menjawab. “ Berangkat pintu di kanan, pulang pintu di kiri.”

Perlahan, jalanan yang semakin gelap kami susuri. Sesekali kilatan lampu mobil menyergap.

Al Eiman Uhud. Berada kompleks depan hotel pertama. Posisinya di belakang. Memang, perlu sedikit memutar untuk menuju hotel itu.

Tapi, tenaga Abdul Rahman seolah tak terhenti. Bak Ramdani Lestaluhu berlari di rumput hijau.

Tak jauh dari belokan, dua orang duduk. Petugas sektor tiga. Saya meminta dia menunjukkan Al Eiman Uhud.

Lelaki itu mengantar kami ke hotel. Tak jauh dari tempat dia duduk. Pintu hotel terbuka. Sebelum berpisah, Abdul Rahman ingin bicara lagi dengan adiknya.

“ Besok jangan lupa. Di hotel. Pagi. Ya?” kata Abdul Rahman.

Usai telepon tertutup. Dia berjalan. Menuju lift. Ke lantai empat. Memunggungi saya yang ngos-ngosan mengikuti langkah kakinya. 

Laporan jurnalis Dream, Maulana Kautsar, dari Tanah Suci 

Beri Komentar