Menjelajah Pasar Kakiyah di Mekah

Reporter : Eko Huda S
31 Agustus 2018 17:04
Pasal Kakiyah diserbu oleh jemaah haji Indonesia untuk membeli dan menyembelih kambing sebagai pembayar dam atau denda.

Dream - Puluhan pria kulit hitam berbaju hijau berjalan tenang. Tak surut oleh suhu terik 45 derajat Celcius.

Sesekali, para lelaki dengan tinggi hampir dua meteran itu mengelap wajah yang berkeringat. Tangan mereka juga sibuk menghalau kepulan debu yang dihambur angin.

Mereka terus melaju. Mengarah ke sebuah gedung besar berukuran empat kali lapangan futsal. Para mengikuti belasan kambing yang diangkut menggunakan mobil bak terbuka.

Di dalam gedung itu, bau anyir menyebar. Sisa darah masih nampak. Satu persatu kambing dibariskan. Beberapa warga Indonesia yang membeli kambing itu mendekat. Membacakan nama.

" Dede Rohali bin Fulan."

Tenang. Lelaki berbadan tegap itu mengambil pisau. Mengasahnya hingga warga perak besi terlihat.

Kepala kambing dilekatkan ke besi berlubang di lantai. Mengulang nama yang disebut, si penjagal itu mulai menempelkan pisau ke leher kambing berwarna cokelat.

" Bismillahi Allahu Akbar," ucap dia. Pisau lelaki itu menyayat leher kambing. Darah memuncrat dan segera disemprot air hingga bermuara di saluran.

 dam

Minggu, 12 Agustus 2018 itu sebanyak 16 kambing tersembelih sempurna. Tak habis waktu sampai satu jam. Usai mati, kambing-kambing itu digantung. Mirip etalase penjual daging.

Di rumah pemotongan kambing itu, terdapat empat stasiun pemotongan. Masing-masing dapat menampung 15 penjagal.

Meski bau anyir menyeruak, lokasi ini tergolong bersih. Beberapa warga Indonesia yang merokok di dalam tempat pemotongan hewan dinasihati.

“ Jangan merokok,” kata seorang pekerja.

Para jemaah haji Indonesia sengaja memilih kambing-kambing di Kakiyah karena harganya miring. Mereka biasanya menuju Pasar Kambing Kakiyah untuk mencari kambing sebagai bakal membayar dam atau denda.

Dam dikenakan kepada hampir setiap jemaah haji Indonesia karena pelaksanaan haji tamatu`.

Di Pasar Kakiyah ini, satu ekor kambing di Kakiyah dijual dengan harga 250 riyal hingga 450 riyal. Tentu saja, harga yang ditawarkan menyesuaikan dengan kualitas kambing.

Harga kambing itu belum termasuk dengan ongkos potong dan pengiriman. Satu ekor kambing yang dipotong dikenakan jasa pemotongan sebesar 21 riyal dan 10 riyal untuk jasa pengiriman ke lokasi pemotongan.

 dam

Jemaah haji asal Embarkasi Solo, Sumarno, sengaja ke Pasar Kambing Kakiyah untuk cari tahu proses pemotongan kambing yang dibelinya. Meski mengaku repot, dia ingin memanfaatkan waktu berhaji itu untuk mendapat pahala.

“ Sebenarnya ya repot. Kan kita cari pahala ya enjoy saja,” ujar dia.

Selain difungsikan sebagai tempat mencari hewan dam, Pasar Kakiyah juga ramai saat Idul Adha. Dari catatan Al Arabiya, terdapat 1 juta kilogram sisa hewan kurban.

Untuk mengatasinya, Dinas Pengembangan Mekah membuat proyek mengubah sampah dan limbah hewan sisa pemotongan kurban itu sebagai pupuk organik.

 dam

Mereka menggelontorkan dana sebesar 200 juta riyal untuk melindungi lingkungan dari bau tak sedap, bakteri, dan pencemaran air tanah dari operasi pembuangan limbah.

Saat ini pabrik yang didirikan Dinas Pengembangan Mekah berkapasitas sepuluh ribu ton, dengan kemampuan pengolahan mengubah sampah menjadi pupuk sebesar 120 ton tiap harinya.

Ada tiga tahap mengubah sisa hewan kurban di pabrik pengolahan itu. Pertama, pabrik tersebut akan memilah bangkai dan kulit. Pabrik hanya menerima bangkai untuk proses pembuatan pupuk.

Proses ke dua, sisa hewan kurban yang masuk itu akan digiling dan disemprot dengan bahan kimia khusus untuk mencegah asap dan bau. Di bagian ke tiga, air limbah bangkai akan dikurangi. Limbah itu kemudian dibakar hingga suhu 800 derajat Celcius untuk mendapat pupuk organik.

Laporan Maulana Kautsar dari Mekah 

Beri Komentar