Kisah WNI Penjaga Air Zamzam di Tanah Suci

Reporter : Maulana Kautsar
6 September 2018 18:55
Sudah delapan tahun Mus menjadi penjaga air zamzam di Masjid Nabawi. Dia memastikan tak kekurangan air.

Dream – Hari beranjak sore. Sudah pukul tiga. Tapi matahari masih menyengat. Di bawah terik itu, Uus Rusman tetap bekerja di Masjid Nabawi.

Hari itu, pria yang karib disapa Mus ini mengganti tatakan drum penampungan air zamzam yang kotor. Kerjaan ini rutin dia lalukan saban dua hari sekali.

Mus hilir mudik dari pintu 20 ke depan gerbang 21 Masjid Nabawi. Tak sampai masuk. Alas drum air zamzam itu dia ganti dengan yang lebih bersih.

Pekerjaan Mus bukan hanya itu. Selepas sholat Maghrib, dia kembali bekerja di area dalam masjid tempat Nabi dimakamkan itu. Dia selalu berdiri di dekat tiang ke empat dari pintu masuk 21 Masjid Nabi.

Dari tempat itulah Mus mengawasi ketersediaan enam drum air zamzam. Dia akan mengganti enam drum yang masing-masing berkapasitas 20 liter jika dirasa telah habis. Enam drum cadangan diletakkan di bagian belakang barisan drum yang tersaji.

Mus tahu betul bagaimana sirkulasi pergantian air aamzam di Masjid Nabawi ini. Tiap hari, 22 mobil tangki air zamzam akan dikirim dari Mekah.

Satu mobil tangki pengangkut air berkapasitas 18.000 liter. Jika ditotal, ada sekitar 396.000 liter air yang untuk jemaah haji.

Dari mobil tangki itu, kata Mus, air akan disimpan di enam tabung penyimpanan yang berada di bawah area Masjid Nabawi. Empat untuk air dingin. “ Dua tabung yang hangat,” kata Mus.

Mus memastikan air zamzam yang dingin itu bukan dicampur es. “ Ada jemaah Indonesia tanya apakah dicampur es. Tidak. Itu tabung stainless-nya didinginkan,” ujar dia, sambil tersenyum.

2 dari 2 halaman
Beri Komentar