Keajaiban Tukang Tambal Ban, Ekonomi Minus Bisa Naik Haji Bareng Istri

Reporter : Eko Huda S
31 Juli 2018 17:08
"Kalau dipikir-pikir penghasilan sama pengeluaran itu minus. Gusti Allah memanggil saya untuk ke Mekah. Alhamdullilah saya akan berangkat ibadah haji," tutur Safuan.

Dream - Kisah inspiratif jemaah calon haji Indonesia tak ada habisnya. Selalu saja ada jemaah dengan kisah yang patut diteladani. Layak menjadi motivasi bagi kita untuk menguatkan niat menunaikan rukun Islam ke lima itu.

Kali ini, kisah itu datang dari Semarang. Jawa Tengah. Dari seorang tukang tambal ban, Safuan Aziz. Sebagaimana kisah inspiratif yang sudah-sudah, pria 64 tahun ini bisa menabung meski penghasilannya pas-pasan.

Saban hari, Safuan membuka kios tambal ban di depan rumah, Kampung Mangunharjo RT 02/RW II Tugu, Kota Semarang. Di rumah itulah dia melayani para pengendara yang mengalami kemalangan. Menambal ban bocor atau sekadar menambah angin.

Dan pagi itu, Rabu 25 Juli 25 Juli 2018, Safuan telah mendapat rezeki banyak. Beberapa warga yang butuh jasanya sudah datang. “ Warga-warga sini seringnya minta tambal ban sama nambah angin,” kata Azis, dikutip dari merdeka.com.

Penghasilan tak tentu. Bila banyak orang menambal ban, maka segari uang Rp50 ribu bisa mendekam di kantong. “ Karena melihat saya sudah tua, istri saya minta saya membengkel di depan rumah saja. Biar tidak capek,” ujar dia.

Keinginan berhaji datang dari istrinya, Musharofah. Dulu, Musharofah yang bekerja sebagai buruh pabrik menabung secara diam-diam. Penghasilan yang tak seberapa itu disisihkan. “ Itu saja dia ngumpet-ngumpet. Tidak pernah ngasih tahu kepada saya,” kata Azis.

Sejak 2008, Safuan ikut menabung. Hasil menambal turut disihkan. Uang-uang itu disimpan di dalam bakul. Tempat nasi. Untung bagi pasangan ini. Saat rumah mereka direndam banjir tahun 2010, bakul itu selamat.

“ Istri saya nanya, Pak wakul nasi di kamar ditaruh mana. Saya jawab, masih ada di kamar,” kenang Safuan.

“ Ternyata setelah dibuka isinya uang Rp 50 juta. Dia bilang itu tabungan dari hasil nambal ban dan uang gajinya dulu yang dipakai buat ongkos berangkat haji,” sambung Safuan.

Uang itulah yang dipakai mendaftar haji pada 2011. Untuk menggenapi ongkos, Safuan menjual motor kesayangan. Total uangnya terkumpul Rp36 juta, sebagai tambahan biaya berangkat haji bersama istrinya.

Safuan sangat bersyukur, sebab tahun-tahun sebelumnya dia turut mengantar tetangga berangkat haji. Tapi, tahun ini giliran dia yang diantar. Dia berhaji bareng delapan warga kampungnya.

“ Kalau dipikir-pikir penghasilan sama pengeluaran itu minus. Gusti Allah memanggil saya untuk ke Mekah. Alhamdullilah saya akan berangkat ibadah haji,” tutur bapak empat anak ini.

Ekonomi mereka memang pas-pasan. Itu pula yang sempat membuatnya minder. Sebab, di dalam kloternya, banyak yang berprofesi sebagai dokter, PNS, pengusaha, dan pekerjaan lain yang lebih mentereng daripada tukang tambal ban sepertinya.

“ Ada yang jadi pengawas keuangan DPKAD, dokter sampai pengusaha. Saya dalam hati sempat minder. Begitu diminta ngenalin diri, saya spontan saja bilang kalau saya juga dokter. Bedanya kerjaan saya dokter ban. Saya bilang saya juga bisa nyuntik ban lho tiap nambal ban motor. Semuanya pada tertawa,” terang dia.

Tapi itulah, apapun pekerjaannya, berapapun jumlah hartanya, semua sama di mata Allah. Sama-sama tamu Allah. Kini dia tergabung dengan kloter 70 yang dijadwalkan berangkat pada 6 Agustus 2018 dari Embarkasih Donohudan.

“ Persiapannya sekadar membawa pakaian secukupnya lalu dianjurkan tidak bawa makanan banyak-banyak. Yang penting saya sediakan perlengkapan obat-obatan saja buat jaga kesehatan,” tutur Safuan. 

Beri Komentar