Bermodal Uang Dimakan Rayap, Nenek Renta Sebatang Kara Ini Naik Haji

Reporter : Eko Huda S
30 Juli 2018 12:26
Nenek Supinah rela berhemat. Setiap hari, ia hanya masak beras 2 gelas kecil. Tahu dan tempe merupakan lauk paling mewah.

Dream - Supinah. Puluhan tahun hidup sebatang kara, tak membuatnya menyerah. Nenek renta ini terus melanjutkan hidup meski ditinggal wafat oleh suami tercintanya.

Tahun ini, nenek 76 tahun itu bahkan mampu mewujurkan cita-cita yang telah dia bangun sejak muda: berhaji. Dia tergabung dalam kelompok terbang 37 rombongan 8 asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Hidupan Supinah selalu dirubung kesederhanaan. Saban hari dia hidup sebagai buruh tani. Saat muda, dia hanya dibayar lima rarus perak perhari. Hingga kini dia menerima upah Rp35 ribu perhari.

Tapi penghasilan pas-pasan ini tak membuat Supinah menyerah. Dia terus berusaha mewujudkan cita-cita naik haji, yang dipendam sejak muda. Uang hasil jerih payah itu ia simpan sedikit demi sedikit.

Supinah mengaku menyimpan uang itu di bawah amben. Ketika uangnya sudah terkumpul sekitar Rp300 ribu, ia titipkan kepada tetangga depan rumah yang dipercaya.

“ Ya lama nyimpannya, uang sampai dimakan rayap dan jamuran,” ujarnya, pelan.

Untuk mengumpulkan ongkos haji, nenek asal Dukuh Krajan, Ngrupit, Jenangan, Ponorogo, ini rela berhemat. Setiap hari, ia hanya masak beras 2 gelas kecil dengan lauk sayuran seadanya.

“ Sambal terong bayem saja, paling bagus pakai tahu tempe,” ucapnya dengan senyum merekah.

Rumahnya pun sangat sederhana, dinding dan lantai rumahnya sudah banyak yang pecah dan mengelupas. Supinah juga tak punya barang berharga selain rumah tersebut.

“ Kasihan, sepedapun ia tak punya. rumahnya banyak yang ngelupas dan pecah. Layak dapat bantuan. Semoga dengan masuk TV, ada yang mau bedah rumah mbah Supinah,” ujar tetangga Supinah.

Tahun 2010, uang yang dititipkan tetangganya telah terkumpul lebih dari Rp25 juta. Dengan diantar tetangganya, Supinah mendaftar haji.

Karena sudah lanjut usia, hampir satu tahun terakhir ini Supinah menyudahi pekerjaannya sebagai buruh tani. Kini ia bekerja serabutan seadanya.

Dua hari sekali, ia memetik bunga turi dari sebatang pohon yang ia miliki. Bunga turi tersebut ia jual, dan mendapat uang berkisar lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah.

“ Ya, uangnya bisa untuk beli beras, garam untuk makan, turinya juga kadang buat makan,” jelas Supinah.

Selain itu, Supinah juga mencari kayu untuk bahan bakar dapurnya. Meski usianya sudah lanjut, Supinah terlihat masih sehat dan kuat.

“ Kebiasaan saya kerja keras, gerak terus, jadi ya alhamdulillah masih sehat,” terang Supinah didampingi tetangganya, yang juga satu rombongan berhaji dengannya.

Sumber: Kemenag Jawa Timur 

Beri Komentar