Bermodal Keyakinan, Penjual Air Galon Berangkat Berhaji

Reporter : Ahmad Baiquni
24 Juli 2019 14:54
Kadariah menyisihkan sebagian hasil penjualan air galonnya untuk pergi haji.

Dream - Jika dipikir, kondisi ekonomi Kadariah binti Kanta Daud, 58 tahun, sangatlah minim. Penghasilannya sebagai penjual air galon tidaklah banyak.

Nyatanya, tahun ini Kadariah berangkat juga ke Tanah Suci. Bermodal keyakinan, keinginannya untuk menunaikan haji akhirnya terbayar lunas.

" Saya betul-betul ingin dan yakin bisa berangkat haji," ucap Kadariah, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 24 Juli 2019.

Kadariah menjalani hidup sederhana bersama dua anaknya. Sang suami sudah meninggal delapan tahun lalu.

Sebagai penjual air galon yang sudah dimasak, Kadariah sadar keinginannya mungkin sulit terwujud. Berbekal tekad dan usaha keras, dia sisihkan sebagian pendapatan untuk pergi haji.

Niat itu akhirnya terwujud tahun ini setelah dia mendaftar sejak 2011. Tentu, upaya Kadariah mewujudkan niat itu sangat berat.

Dia harus menghidupi diri dan dua anaknya. Tak cukup hanya mengandalkan hasil jualan air galon, jemaah haji asal Kabupaten Rokan Hulu, Riau, ini juga berjualan ikan baik basah maupun asap di pasar, serta membuka warung kecil di rumahnya.

Dia mengaku pernah memiliki ladang kareng yang tidak begitu luas. Lahan itu kini telah dijualnya untuk membiayai pengobatan almarhum suaminya yang menderita tumor.

" Sudah ke mana-mana kami bawa berobat, sampai ke Padang, Rengat, Pekanbaru, tapi tak sembuh juga, dan akhirnya takdir Allah itu datang, suami saya duluan dijemput Yang Maha Kuasa," kata dia.

Kadariah mengatakan uang sisa biaya pengobatan suaminya dia pakai untuk melunasi utang. Beruntung masih ada sisa meski sedikit, dia beranikan diri memakai uang itu untuk mendaftar haji.

Sejak mendaftar, wanita itu mulai menyisihkan sebagian pendapatannya. Setiap hari, Kadariah menyimpan uangnya di balik kasur dengan besaran tidak menentu mulai Rp10 ribu hingga Rp50 ribu.

" Kan biaya haji itu banyak bukan cuman mendaftar saja. Tidak pasti berapapun jumlah yang disimpan, tergantung berapa yang bisa disisihkan. Tapi setiap hari harus ada yang disimpan untuk ditabungkan," ucap dia, dilansir Antara.

Dalam sehari, Kadariah rata-rata menjual 12 galon air. Jika pesanan sedang ramai, pendapatannya bisa Rp100 ribu per hari.

Rupanya, dia sudah menabung di bawah kasur sejak suaminya masih ada. Tetapi, sang suami tidak mengetahuinya.

Apalagi, tabungan tersebut tidak mengurangi biaya sekolah anak-anaknya. Sampai anaknya lulus, tabungan Kadariah tidak terganggu.

" Sekarang yang masih kuliah tinggal satu, di UPP Rohul di belakang Kapolres Rohul, dan satu lagi yang besar udah menikah itu pun hanya kerja buruh kasar, ada orang buat batako, ngecat rumah orang atau membuat jalan setapak dikerjakannya juga," kata dia.

Kadariah mengakui sebagai janda yang masih punya tanggungan anak kuliah bukan perkara mudah. Dia tertuntut untuk pandai membagi pengeluaran sehingga bisa daftar haji.

Usaha air galon dimasak dia lakoni tiga tahun belakangan. Sebelumnya, dia berjualan ikan basah.

" Kalau dapat untung Alhamdulillah, kalau tak terjual ikan itu saya salah," ucap Kadariah.

Saat di Tanah Haram nanti, dia ingin fokus ibadah. Tidak lupa, mendoakan kelancaran rezeki terutama untuk anak-anaknya sehingga bisa hidup lebih baik.

" Kalau bisa saya hanya ingin ibadah di sisa usia, semoga harapan ini terwujud. Waktu dhuha ya dhuha, tahajud juga bisa, tapi kalau kita letih tidak mungkin sanggup beribadah maksimal," ucap Kadariah.

Beri Komentar