Berburu Diskon di Pasar Seng Mekah

Reporter : Maulana Kautsar
30 Agustus 2018 11:03
Seorang pedagang pernak-pernik, Sahid Abdullah, mengaku mendapatkan omzet tinggi ketika musim haji. "Tidak haji, sleep," kata Abdullah.

Dream – Rangkaian ibadah haji sudah selesai. Sehingga, sebagian jemaah yang tinggal di Mekah memanfaatkan waktu dengan beribadah dan mencari buah tangan.

Salah satu pasar yang menjadi tujuan para jemaah haji yaitu Pasar Jaafariyah. Pasar ini dikenal oleh sebagian warga Indonesia dengan sebutan Pasar Seng.

Sebutan Pasar Seng muncul karena dulunya lapak-lapak pasar ini menggunakan seng sebagai atapnya.

Tapi, kini kesan kumuh Pasar Seng telah berganti. Deretan toko dengan rak-rak kaca menjadi tontonan yang jamak.

Pasar Jaafariyah menjual berbagai pernak-pernik buah tangan. Mulai dari sajadah hingga obat-obatan herbal.

 Pasar Seng

Jemaah haji asal Riau yang tergabung dalam kloter BTH 03, Baharuddin, membeli membeli baju-baju khas Timur Tengah dan sajadah untuk keluarga di Tanah Air.

Meski begitu, kata dia, harga barang di Pasar Jaafariyah tak jauh beda dengan di Tanah Air. “ Ya tak jauh beda lah,” kata Baharudin, Sabtu 26 Agustus 2018.

Di hari itu, dana sebesar 400 riyal telah dia gelontorkan untuk belanja oleh-oleh. “ Ya, begitu,” ucap dia sembari tersenyum malu.

Tapi, ternyata, bukan kali pertama ini Baharudin berbelanja. Dia mengaku telah beberapa kali menyambangi pasar tersebut.

Agar beban kopernya tak melebihi kapasitas, Baharudin telah mengatur isinya. Dia memjamin barang yang dibawanya tak melebihi ambang batas 30 kilogram. “ Insyaallah enggak,’ kata dia.

 Pasar Seng

Musim haji menjadi ceruk untuk para pedagang. Seorang pedagang pernak-pernik, Sahid Abdullah, mengaku mendapatkan omzet tinggi ketika musim haji. “ Tidak haji, sleep,” kata Abdullah.

Mayoritas barang yang dijajakan di Pasar Jaafariyah yaitu produk tekstil. Dari pantauan Dream, sejumlah produk teksil buatan Pakistan, India, dan China, membanjiri pasar ini.

Sementara itu, produk asli Arab Saudi yang tampak, yaitu kosmetika dan parfum.

Jemaah yang bertransaksi di pasar ini tak perlu takut dengan kendala bahasa. Sebagian pedagang cukup fasih berbahasa Indonesia. “ Murah, murah. Ada diskon,” kata seorang pedagang.

Laporan Maulana Kautsar dari Tanah Suci 

Beri Komentar