Peran Saudi Turunkan Angka Kematian Jemaah Haji

Reporter : Maulana Kautsar
6 September 2018 19:11
Hingga Kamis dinihari 6 Agustus 2018, tercatat ada 263 jemaah haji Indonesia. Jumlah itu jauh lebih sedikit dari tahun lalu yang jumlahnya lebih dari 600 orang lebih.

Dream – Hingga Kamis dinihari 6 Agustus 2018, tercatat ada 263 jemaah haji Indonesia. Jumlah itu jauh lebih sedikit dari tahun lalu yang jumlahnya lebih dari 600 orang lebih. Selain Indonesia, Kerajaan Arab Saudi punya andil menurunkan angka kematian jemaah tersebut.

Masya Allah, tabarakallah, karena kebaikan Allah untuk tahun ini terutama di Masyair (waktu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, serta melontar jumrah), dan Mekah bisa kita turunkan angka kematiannya,” kata Kepala Pelayanan Kesehatan Komite Haji Arab Saudi untuk Asia Tenggara, Ehsan A Bouges, di Jeddah, Rabu 5 September 2018.

Ehsan yang mengepalai pelayanan kesehatan di Mekah, Arafah, dan Masyair (Mina), mengatakan, sebanyak 120 petugas kesehatan dikerahkan. Para petugas kesehatan itu bertugas mengoperasikan ambulans dan menangani operasional klinik kesehatan di wilayah-wilayah tersebut.

Pria keturunan Bugis-Sunda itu menuturkan, sebelum musim haji dimulai, petugas kesehatan Saudi memetakan sejumlah faktor-faktor terkait kesehatan jemaah. Salah satu yang menjadi fokus yaitu jumlah jemaah Indonesia yang 60 persennya berusia di atas 60 tahun.

Selain itu, Ehsan mengklaim, terdapat 147ribu jemaah beresiko tinggi terkena penyakit di Tanah Suci. Kebiasaan-kebiasaan jemaah Indonesia juga mereka petakan. Setelah itu, insinyur teknik industri dari Universitas King Abdulaziz Jeddah itu bersama koleganya merancang sistem pelayanan di Arafah, Muzdalifah, Mina, dan Mekah.

“ Jadi kami melakukan restrukturisasi dan reorganisasi tahun ini belajar dari pengalaman sebelumnya,” kata dia.

Beberapa terobosan tahun ini yaitu penempatan klinik yang lebih banyak dengan sistem pendingin ruangan yang lebih baik. Tak kalah penting, Arab Saudi juga mengoperasikan 28 ambulans yang dibagi di tiga wilayah berbeda.

Dengan pemetaan ambulan itu, kondisi merujuk jemaah sakit ke klinik dapat segera dilakukan. Selain itu, Ehsan juga menempatkan perwakilan-perwakilan di rumah sakit untuk menyegerakan pengurusan perawatan jemaah.

Pengerahan sumber daya manusia juga disesuaikan dengan kepadatan lokasi. Pada saat wukuf, tenaga pelayanan kesehatan dikonsentrasikan di Arafah, kemudian dipindahkan ke Muzdalifah, Mina, dan Mekah berturut-turut sesuai waktu-waktu padat masing-masing lokasi.

Tak hanya soal pelayanan kesehatan, Ehsan mengatakan, pelayanan katering juga punya peran krusial menyokong kesehatan jemaah. Selain itu, kata Ehsan adalah menghindarkan anggapan keliru jemaah tentang umrah tujuh kali sebelum wukuf.

Menurut dia, umroh berkali-kali akan membuat jemaah mengalami kelelahan di Arafah dan saat melempar jumroh. Pengelola haji dari Cina, Thailand, dan Malaysia sudah melarang sama sekali praktik tersebut. Sementara Indonesia mulai juga menyerukan imbauan larangan itu.

Laporan Maulana Kautsar dari Madinah 

Beri Komentar