WNI di Saudi Berbondong-bondong Daftar Jadi Petugas Badal Haji

Reporter : Maulana Kautsar
2 Agustus 2018 16:52
Biaya yang ditanggung negara untuk badal haji perpetugas sebesar 1500 riyal atau sekitar Rp5,7 juta setelah dipotong pajak.

Dream – Menjelang dimulainya prosesi ibadah haji, warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Arab Saudi berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi petugas badal haji.

Mereka akan bertugas menjalani proses haji bagi jemaah haji yang meninggal atau sedang sakit saat prosesi haji berlangsung. Hingga Rabu kemarin, sudah 84 orang mendaftar dan mengisi formulir.

" Itu di luar yang mendaftar lewat telepon atau WhatsApps. Yang kami terima adalah yang mengisi formulir. Pendaftaran masih dibuka sampai H-1 wukuf di Arafah," kata Pelaksana Bimbingan Haji Kantor Urusan Haji Daerah Kerja Mekah, Mohammad Adnan, Kamis 2 Agustus 2018.

Menurut Adnan, ada sejumlah persyaratan bagi jemaah yang akan dibadalhajikan, di antaranya meninggal setelah masuk asrama haji embarkasi, meninggal dalam perjalanan menuju Arab Saudi, meninggal di Arab Saudi sebelum wukuf, dan pasien dalam perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi.

" Harus ada penilaian medis bahwa pasien tidak bisa di-safariwukuf-kan (diboyong untuk wukuf di Arafah)," ujar Adnan.

Selain itu, kata dia, pasien yang mengalami gangguan jiwa berdasarkan surat keterangan dokter juga akan dibadalhajikan.

Adnan, yang telah delapan kali menjadi petugas badal haji, menyebut bahwa biaya yang ditanggung negara untuk badal haji perpetugas sebesar 1500 riyal atau sekitar Rp5,7 juta setelah dipotong pajak.

Selain badal haji melalui sistem resmi, banyak mukimin yang menyediakan badal haji atas permintaan individu serta travel haji dan umroh. Mereka yang membuka diri untuk badal haji secara mandiri itu biasanya menetapkan honor lebih murah. " Saya dikasih US$1.000 –sekitar Rp14 juta– oleh seseorang," ungkapnya.

Hingga Kamis, 2 Agustus 2018, siang, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci sebanyak 19 orang. Para jemaah itu akan dibadalhajikan oleh pemerintah.

Laporan jurnalis Dream, Maulana Kautsar, dari Tanah Suci 

Beri Komentar