Mengintip Dapur Katering Jemaah Haji Indonesia di Mekah

Reporter : Maulana Kautsar
23 Juli 2018 20:38
Sebanyak 36 perusahaan katering bakal menyediakan makanan untuk para jemaah haji selama di Mekah.

Dream - Jelang kedatangan jemaah haji Indonesia, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Mekah mulai bersiap diri. Untuk memastikan layanan, Tim Daker Mekah mengecek kesiapan katering jemaah haji.

Satu dari 36 layanan katering yang diperiksa yaitu Bin Marta Catering. Perusahaan katering ini terletak di wilayah Jabal Nur, Mekah, Arab Saudi.

Kepala dapur Bin Marta Catering, Karma Senam Zain, mengatakan pihaknya menyiapkan 6.000 porsi tiap jam makan atau sebanyak 12 ribu porsi untuk makan siang dan malam untuk jemaah haji.

" Kami memiliki 7 juru masak, 6 tenaga penyiap bahan baku dan 30 tenaga pengemas makanan," ujar Karma di Mekah, Senin 23 Juli 2018.

Dengan jumlah karyawan itu dia optimistis mampu memenuhi target kerja yang diberikan Kementerian Agama.

Di dapur katering Bin Marta sudah tersedia sejumlah bahan baku asal Indonesia. Mulai dari kecap, saus dan bumbu-bumbu.

" Bahkan ada pula nangka muda, daun salam, dan jeruk purut khas Indonesia," kata Kadaker Mekah, Endang Jumali.

" Ada pula tempe dan buncis," ujar dia menambahkan.

Endang berharap jemaah tak perlu membawa uang berlebih saat menunaikan ibadah haji. " Insya Allah terkait makan tak perlu khawatir," ucap dia.

Kasi Katering Daker Mekah, Evy Nuryana, memastikan adanya pengawasan bahan baku, peralatan dan juru masak.

" Alhamdulillah dari 36 katering rata-rata sudah siap, sementara bahan baku akan dilengkapi paling lambat hari ini (Senin)," ujar dia.

Terkait mekanisme kontrol yang dilakukan, Evy memberikan perhatian lebih pada aspek produksi dan distribusi makanan. " Jemaah Indonesia akan mendapat makan siang dan makan malam selama 20 hari," terang Evy.

Selama proses haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), jemaah haji akan mendapatkan 16 kali makan. Rinciannya, 15 kali makan berat dan sekali snack selama 5 hari antara tanggal 8-12 Zulhijah.

" Jelang puncak Armina, layanan katering dihentikan karena Mekah sudah sangat padat sehingga tidak memungkinkan distribusi,” kata Evy.

Pada periode itu, jemaah dapat membeli makanan secara mandiri.

Laporan jurnalis Dream, Maulana Kautsar, dari Tanah Suci

Beri Komentar