10 Inovasi Kemenag dalam Penyelenggaraan Haji 2018

Reporter : Maulana Kautsar
3 Juli 2018 10:10
Dari perubahan sistem pengecekan di imigrasi hingga jatah makan.

Dream - Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan bahwa persiapan haji 2018 mendekati final. Menurut Lukman ada sejumlah hal yang belum diselesaikan, yaitu finalisasi kontrak katering dan beberapa hotel di Madinah.

" Cek akhir persiapan haji 2018 berjalan lancar. Bersyukur, secara keseluruhan layanan sudah siap 90 hingga 95 persen," ujar Lukman, baru-baru ini.

Untuk musim haji 2018 ini, Kementerian Agama menyiapkan sepuluh inovasi pelayanan. Salah satunya yaitu rekam biometriks jemaah haji di embarkasi Indonesia.

Layanan ini diharapkan dapat memotong antrean dan masa tunggu pemeriksaan imigrasi jemaah di Bandara Madinah danJeddah. Setibanya di bandara, jemaah yang sudah mendapatkan verifikasi akhir dapat segera naik bus dan menuju hotel masing-masing.

" Dari sebelumnya bisa empat hingga lima jam, tahun ini diharapkan antrean jemaah di kedua bandara di Saudi itu hanya sekitar satu jam," kata Lukman.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, hotel pada musim haji kali ini disewa dengan satu musim penuh di Mekah maupun Madinah. Selama ini, sistem sewa seperti itu hanya diterapkan di Mekah.

Dengan begitu, pemindahan jemaah dari Madinah ke Mekah atau sebaliknya, dapat dilakukan dengan mudah dan tetap memperhatikan kenyamanan jemaah.

" Kita tidak lagi khawatir dengan masalah batas waktu tinggal di hotel seperti pada sistem blocking time," ujar dia.

Inovasi ketiga yang diterapkan yaitu QR Code pada gelang jemaah. QR Code berisi rekam data identitas jemaah yang dapat diakses melalui aplikasi haji pintar. Sistem ini memudahkan petugas haji dalam mengidentifikasi dan membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan.

Inovasi lainnya, penggunaan bumbu masakan dan juru masak asal Indonesia pada perusahaan katering penyedia konsumsi jemaah. " Kami juga wajibkan penyedia katering untuk memperkerjakan juru masak asli Indonesia," ucap Lukman melanjutkan.

Selain soal rasa dan juru masak, kuantitas layanan katering untuk jemaah Indonesia khususnya di Mekah akan ditambah. Jika sebelumnya hanya 25 kali, tahun ini jemaah haji Indonesia akan mendapat katering sebanyak 40 kali.

Selain itu, ada juga penambahan kelengkapan minuman dan makanan berupa teh, gula, kopi, saos sambel, kecap dan satu potong roti.

Sementara itu, living cost sebesar 1500 riyal, setara Rp5.6 juta, tetap diberikan penuh sebagaimana tahun sebelumnya. Jemaah dapat menggunakan uang itu untuk keperluan lainnya.

" Jemaah haji yang diberangkatkan pagi hari dari hotel di Mekah pada 8 Zulhijah atau fase puncak haji akan mendapat tambahan makan siang di Arafah," terang Lukman.

Inovasi keenam, penandaan khusus berupa warna pada paspor dan koper serta penggunaan tas kabin. Tanda warna ini juga sekaligus menunjukan sektor atau wilayah hotel dan nomor hotel tempat tinggal jemaah.

Di tahun ini, Kemenag juga mengembangkan inovasi pengalihan porsi bagi jemaah wafat kepada ahli waris. Regulasi baru ini untuk memberikan penggantian jemaah wafat pada ahli warisnya.

Syaratnya, jemaah yang wafat sudah ditetapkan sebagai jemaah berhak lunas pada tahun berjalan. Untuk tahun ini, penggantian dilakukan pada jemaah yang wafat setelah 16 Maret 2018.

Sebelumnya, porsi jemaah wafat tidak bisa digantikan sehingga uangnya ditarik kembali oleh ahli waris. Jika akan digunakan untuk mendaftar, maka ahli waris terhitung dalam antrean baru.

Pencetakan visa saat ini sudah bisa dilakukan oleh Kemenag menjadi inovasi kedelapan. Inovasi ini sangat signifikan dalam mempercepat proses penyiapan dokumen keberangkatan jemaah.

Sebelumnya, Kemenag harus menunggu visa dari Kedutaan Arab Saudi sehingga tidak jarang prosesnya memakan waktu lebih lama.

Inovasi kesembilan yaitu mengintensifkan layanan bimbingan ibadah. Kemenag tahun ini akan menempatkan satu konsultan ibadah di tiap sektor.

Sebelum ini, konsultan ibadah hanya ada di kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah. Konsultan ini diharapkan bisa bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang ada di tiap kloter.

Inovasi terakhir yaitu dibentuknya tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH). Tim ini terdiri dari petugas layanan umum yang memiliki kemampuan medis dari rumah sakit haji, prodi kedokteran UIN Jakarta, serta rumah sakit TNI atau Polri.

Tim ini disiapkan untuk mendukung layanan kesehatan pada puncak haji, utamanya pada hari pertama lontar jumrah. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, banyak jemaah yang membutuhkan pertolongan kesehatan di areal Jamarat menuju Mina.

" Sepuluh inovasi ini merupakan upaya Pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan bagi jemaah. Harapannya, mereka bisa beribadah dengan tenang, memperoleh kemabruran, serta kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat," ucap Lukman.

Beri Komentar